Supply Chain Management II (Tulisan Softskill Organisasi dan Metode)

ISU-ISU KONTEMPORER SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

 

 

AGILE SUPPLY CHAIN MANAGEMENT : STRATEGI  BERBASIS COMPETITIVE EXCELLENCE

 

BAB 4

 

ISU BARU DALAM SUPPLY CHAIN

Persaingan bisnis dalam era globalisasi yang diwarnai dengan ketidakstabilan pasar, menuntut prusahaan untuk memiliki keunggulan kompetitif baik dalam hal harga maupun kualitas. Dalam kegiatan operasionalnya, perusahaan dihadapkan pada kenyataan bahwa kompetensi sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut sulit diperoleh. Untuk mengatasinya, perusahaan dituntut meelakukan kerjasama dalam sumber daya atau kompetensi yang dibutuhkan masing-masing perusahaan dalam menghasilkan kebutuhan sesuai permintaan dan kebutuhan konsumen melalui manajemen rantai pasokan (supply chain management ). Selain itu, melalui kerjasama antar perusahaan diharapkan proses inovasi dapat ditingkatkan.

Kemampuan dalam memenuhi permintaan konsumen dan pasar dengan waktu tunggu dan waktu pengiriman yang pendek merupakan tolak ukur untuk menilai tingkat respon perusahaan terhadap permintaan konsumen. Agile supply chain memberikan suatu alternative strategi dalam memenangkan persaingan global dengan berbasis competitive excellence yaitu fokus konsumen, kualitas, dan agility yang didukung kompetensi perusahaan seperti keterlibatan konsumen, manajemen persediaan, teknologi, pengembangan produk, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Teknologi informasi mnjadi salah satu pendorong bagi terciptanya integrasi rantai pasokan termasuk juga makin kompleksnya permintaan konsumen, makin kompetitifnya kompetisi global dan peningkatan keinginan perusahaan untuk menjadi perusahaan yang inovatif dan mampu menjadi yang pertama dalam mengenalkan produk baru sesuai kebutuhan pasar. Tulisan ini membahas agile supply chain sebagai suatu stratgi alternatif dalam memenangkan persaingan global dengan berbasis pada competitive excellence.

 

 

MANAJEMEN RANTAI PASOKAN DALAM ERA BISNIS TEKNOLOGI MAJU

Perencanaan bisnis dalam lingkungan bisnis teknologi tinggi sangat dinamis dan kompleks sehingga dalam pengambilan keputusan bisnis di perlukan perubahan dari suatu simulasi model dalam sistem pendukung keputusan. Hal tersulit dihadapi pemanufaktur adalah bagaimana mengintegrasikan fungsi upstream dan downstream. Seiring perkembangan dan tuntutan dalam kompetisi bisnis, praktik-praktik manajemen rantai pasokan telah mengalami pergeseran paradigma dari tradisional supply chain, lean supply chain, hingga agile supply chain. Tradisional supply chain menitikberatkan pada upaya melakukan proteksi dan menekankan pada biaya dan keuntungan, bukan pada proses untuk mencapai tujuan kompetitif perusahaan. Lean supply chain merupakan integrasi upstream dan downstream antara pemasok dan konsumen yang memiliki sasaran kompetitif yang signifikan. Agile supply chain menitikberatkan pada tingginya kerjasama tidak hanya dengan pemasok dan konsumen tetapi juga dengan pesaing, integrasi data,dan kerjasama perusahaan dalam proses pabrikasi.

Pergeseran paradigma ke arah agile supply chain yang menekankan pada integrasi tersebut, memungkinkan penciptaan nilai dan transfr proses dari pemasok ke konsumen akhir dengan pergerakan aset fisik, informasi, pengeetahuan, dan peralatan seperti penggunaan teknologi dalam proses produksi secara baik. Penciptaan nilai pelanggan yang superior sangat tergantung pada kemampuan masing-masing perusahaan yang terlibat dalam rantai pasokan, dalam meningkatkan kinerja perusahaan yang merupakan sasaran yang hendak dicapai perusahaan.

Selain itu kondisi hubungan atau kerjasama antar peerusahaan juga memiliki pengaruh kuat dalam mewujudkan terciptanya superior customer value. Oleh karena itu kualitas hubungan memfasilitasi penciptaan nilai superior bagi pelanggan. Hubungan kerjasama antar perusahaan ini juga membantu perusahaan dalam memelihara dan memperbaiki kapabilitas kompetitif perusahaan.

 

 

AGILITY : DEFINISI DAN ATRIBUT

Agility merupakan kapabilitas bisnis mencakup struktur organisasi, sistem informasi, proses logistik, dan juga pola pikir organisasi yang cakap/tangkas dan fleksibel untuk merespon setiap perubahan yang terjadi secara cepat. Karakteristik inti organisasi yang agile adalah fleksibel dan dapat mererspon secara cepat permintaan konsumen, perubahan volume produk dan jadwal. Agility terkait dengan perubahan harga, kualitas, kustomisasi, dan pengiriman tepat waktu. Agility memiliki empat prinsip dasar yaitu memberikan nilai bagi konsumen, kesiapan untuk berubah, penilaian terhadap pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia, dan pembentukan virtual partnership. Untuk menjadi organisasi yang agile diperlukan agility capabilities sebagai competitive excellence, yang dapat dicapai melalui empat area yaitu organisasi, sumber daya manusia, teknologi, dan inovasi.

Kapabilitas agility dibagi dalam empat kategori atribut yaitu responsiveness, competencies, flexibility, dan quickness. Responsiveness merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi perubahan dan merespon perubahan tersebut secara cepat. Competencies merupakan kemampuan untuk memberikan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas aktivitas bisnis untuk mendapat tujuan perusahaan. Flexibility merupakan kemampuan memproses produk yang berbeda dengan fasilitas yang sama yaitu mencakup fleksibilitas volume produk, model produk, dan isu organisasi. Quickness merupakan kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas dan kegiatan operasi dalam waktu yang paling pendek mencakup pengenalan produk baru, kecepatan pengiriman produk dan jasa, dan kecepatan waktu operasi.

 

 

AGILE SUPPLY CHAIN : DEFINISI DAN DIMENSI

Rantai pasokan menggambarkan serangkaian aktivitas yang paling terkait diantara perusahaan-perusahaan yang memberikan kontribusi dalam proses desain, pabrikasi, dan pengiriman produk atau jasa ke konsumen akhir. Tujuan utama agile supply chain adalah penciptaan nilai dan kepuasan pelanggan atau konsumen melebihi kompetitor, mencapai kustomisasi masa pada biaya produksi masa, dan meningkatkan peran dan keterlibatan sumbr daya manusia dalam pengugnaan teknologi informasi.

Mengidentifikasi empat dimensi agile supply chain, yaitu . 1) Customer sensitivity memfokuskan pada upaya untuk mengeliminasi kegiatan-kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah. 2) Virtual integration, menekankan pada respon cepat dalam pergerakan produksi yang stabil. 3) Process Integration melalui pengelolaan tim. 4) Network Intergration .

Customer sensitivity memiliki arti bahwa rantai pasokan harus memiliki kapabilitas dalam membaca dan merespon permintaan pasar. Penggunaan teknologi informasi diperlukan untuk berbagai data antara pemasok dan pembeli yang dapat mempengaruhi penciptaann virtual supply chain yang berbasis informasi. Integrasi virtual, dimensi ketiga mencakup akses informasi, pengetahuan, dan kompetensi peerusahaan melalui internet.

 

 

PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENCAPAI AGILE SUPPLY CHAIN

Untuk mengantisipasi semua perubahan dan perkembangan tersebut perusahaan mencari cara-cara dan terobosan-terobosan baru melalui aplikasi teknologi informasi. Peningkatan integrasi otomatisasi proses bisnis akan membawa dampak pada pengurangan tugas manual. Demikian juga infrastruktur teknologi informasi yang terintegrasi diharapkan dapat menurunkan biaya terkait dengan biaya pemeliharaan, manajemen, operasional dan mendukung pencapaian keunggulan kompetitif melalui perbaikan real time respon. Semula teknologi informasi digunakan hanya trbatas pada pemrosesan data, dengan berkembangnya teknologi tersebut hampir semua aktivitas organisasi telah dimasuki oleh aplikasi dan otomatisasi teknologi informasi.

Penggunaan teknologi informasi pada aktivitas perusahaan seperti pada rantai nilai (value chain) dapat mengatasi berbagai masalah yang muncul seprti penghematan biaya, mempercepat waktu oprasi, meningkatkan produktivitas, mempercepat pengiriman produk maupun jasa pada pelanggan. Selama beberapa tahun sebelum munculnya teknologi enterprise resources planning (ERP) sebagai suatu pendekatan terintegrasi dalam integrasi sistem, perusahaan memfokuskan pada teknologi EDI untuk memperbaiki proses otomatisasi proses bisnis dan rantai pasok antar perusahaan. Sisteem ERP membrikan perbaikan kepuasan konsumeen dan meningkatkan produktivitas. Tapi ERP juga punya keterbatasan yaitu kustomisasi dalam mendukung proses bisnis dan rantai pasokan dalam meendukung proses bisnis dan rantai pasokan secara keseluruhan.

Perkembangan teknologi informasi disatu sisi memang menguntungkan tetapi disisi lain dapat menimbulkan beberapa masalah. Untuk pengadaan teknologi informasi diperlukan biaya yang tidak sedikit, tidak hanya membutuhkan pengetahuan dan kemampuan teknis namun sistem dan teknologi informasi tersebut harus acceptable artinya dapat diterima oleeh orang-orang yang akan menggunakannya. Permasalahan lain yang muncul dengan semakin canggihnya teknologi adalah adanya kejahatan-kejahatan teknologi informasi, misalnya pencurian data perusahaan yang berakibat serius pada kelangsungan hidup perusahaan. Peran penting teknologi informasi dalam merespon perkembangan lingkungan bisnis yang dinamis dan makin kompetitif menuntut perusahaan untuk mampu mengatasi seemua permasalahan yang timbul dengan adanya teknologi informasi dan melakukan investasi dibidang teknologi informasi sehingga kinerja perusahaan dapat ditingkatkan.

 

 

 

 

 

TAHAPAN DALAM MENCAPAI AGILE SUPPLY CHAIN

Untuk tetap bersaing, perusahaan harus responsif dan fleksibel dalam memenuhi perubahan permintaan pasar. Memperbaiki daya saing dengan meningkatkan efisiensi dan efektivitas bisnis internal seperti pembelian, pergudangan, pengelolaan material, dan distribusi yang cenderung memerlukan waktu banyak dan sumber daya finansial yang besar juga sangat diperlukan.

Venkatraman dan Henderson berpendapat bahwa agility dan kapabilitas rantai pasokan dapat dinilai melalui tahapan yang dicapai bila tiga dimensi rantai pasokan yaitu interaksi konsumen, konfigurasi aset, dan knowledge leverage.

Ketiga tahapan dalam rantai pasokan dapat digunakan untuk mengevaluasi ketiga dimensi tahapan rantai pasokan. Dimensi pertama adalah interaksi konsumen. Tujuan utama pada tahap ini adalah membantu perusahaan untuk mengidentifikasi prefensi unik untuk dynamic customization pada tahapan selanjutnya. Dimensi kedua adalah asset configuration, menekankan pada perubahan outsourching ke dalam proses bisnis yang independen, yang kemudian berkembang dalam koalisi sumber daya. Dimensi ketiga, knowledge leverage, memerlukan pengembangan dari penekanan pada keahlian kerja unit atau kompetensi kerja individual dan struktur kedalam aset perusahaan atau tim.

Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan sebelumnya adalah bahwa target yang hendak dicapai dalam setiap dimensi agile supply chain dimulai pada tingkat perusahaan secara individual kemudian meluas pada tingkat organisasi dan unit interorganisasional dalam ketiga tahapan pencapaian agile supply chain.

 

 

PENERAPAN AGILE SCM DI BERBAGAI NEGARA

Paradigma persaingan antar jejaring bisnis yang marak berkembang saat ini makin meningkatkan kesadaran akan pentingnya penerapan konsep Agile SCM sebagai suatu strategi untuk meningkatkan aktivitas pemasaran dan perekonomian dalam artian yang lebih luas. Terdapat empat strategi yang ingin ditemputh oleh pemerintah negara tersebut yaitu : pengembangan efisiensi industri-industri, mempromosikan secara intensif aktivitas investasi.

Praktek penerapan konsep SCM dilakukan dalam berbagai industri yang menyangkut : industri tekstil, consumr goods, otomotif, rokok, furniture, dan juga pasar swalayan. Tujuan penerapan konsep anatara lain : pada kepuasan pelanggan, pengurangan biaya baik biaya yang terjadi pada tingkat inventory maupun pada proses distribusi yang bisa dilakukan secara cepat sehinggak pada akhirnya pula bisa memberikan tanggapan secara tepat atas keluhan konsumen.

Implementasi konsep SCM sangat bergantung pada berbagai hal yang muncul dari lingkungan eksternal seperti : dukungan sosial politik, persiapan infrastruktur (telkomunikasi, transportasi), pendidikan masyarakat, dan sebagainya. Diakui bahwa masalah infrastruktur akan menjadi hambatanluar biasa bagi penerapan teknologi informasi. Di berbagai negara Asia masalah distribui, atau pengiriman produk terganggu oleh adanya peraturan-peraturan yang tidak perlu yang muncul dari pihak pemerintah setempat.

Perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan konsep SCM mengakui bahwa pelaksanaan konsep ini tidak akan berjalan dengan lancar manakala tidak didukung oleh berbagai hal yang muncul dari lingkungan organisasi. Perusahaan dengan berbagai produk andalan seperti Milks, Instants Drinks, Culinary, Chocolates, dan sebagainya, sejak menerapkan SCM pada empat tahun lalu mengalami banyak perbaikan dalam bidang distribusi yang pada gilirannya mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan.

 

PENUTUP

Agile supply  chain menawarkan solusi dalam menghadapi ketidakpastian lingkungan bisnis melalui pengurangan bisnis operasi dan perbaikan pelayanan dan kepuasan konsumen.

Melalui rantai pasokan, perusahaan dapat membangun kerjasama melalui penciptaan jaringan kerja yang terkoordinasi dalam penyediaan barang dan jasa bagi konsumen secara efisien. Sistem integrasi rantai pasokan bisa dilakukan baik secara internal maupun eksternal.

 

 

 

NETWORKED SUPPLY CHAIN : PARADIGMA BARU DALAM NETWORK COMPETITION ERA

 

PERUBAHAN PARADIGMA PERSAINGAN BISNIS

Supply chain management (SCM) merupakan konsep pengembangan manajemen distribusi produk untuk memenuhi permintaan konsumen yang menekankan pada pola terpadu menyangkut proses aliran produk dari supplier, manufaktur, retailer hingga kepada konsumen akhir. Penerapan konsep ini dilakukan dalam mencapai tujuan antara lain : pada kepuasan pelanggan, pengurangan biaya baik biaya yang terjadi pada tingkat inventory maupun pada proses distribusi yang bisa dilakukan secara cepat sehingga pada akhirnya pula bisa memberikan tanggapan secara tepat atas keluhan konsumen.

Informasi sangat diperlukan dalam pembuatan keputusan manajemen rantai pasokan melalui perputaran produk maupun jasa di sepanjang jalur rantai pasokan. Pengelolaan network supply chain, selain memerlukan adopsi teknologi informasi dan komunikasi, diperlukan pula adanya unsur kepercayaan, komitmen kerjasama untuk dapat meningkatkan kinerja rantai pasokan secara keseluruhan dan membangun daya saing rantai pasokan. Kerjasama antar perusahaan dalam suatu jejaring bisnis dibentuk berdasarkan koordinasi sangat diperlukan untuk dapat menghasilkan produk berkualitas tinggi sesuai permintaan dan kebutuhan pasar pada waktu yang tepat dalam merespon tantangan bisnis yang ada.

 

 

LINIER SUPPLY CHAIN VS NETWORKED SUPPLY CHAIN

Pengelolaan suatu perusahaan akan semakin kompleks karena adanya banyak pihak yang terlibat dalam persaingan bisnis, tidak hanya mitra bisnis perusahaan dan perusahaan sendiri, tetapi makin prusahaan pesaing yang makin banyak dan masing-masing memiliki keunggulan dan daya saing yang berbeda. Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas dalam kegiatan operasional perusahaan diperlukan adanya jaminan ketersediaan bahan baku untuk mnjamin kelancaran produksi dan ketersediaan barang jadi dalam memebuhi tuntutan keinginan dan kebutuhan konsumen.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yangsangat pesat membawa dampak pada perubahan anatomi rantai pasokan dari yang linier (linier supply chain/LSC) menjadi jejaring rantai pasokan (networked supply chain/NSC). Dalam Linier Supply Chain, produk dan informasi mengalir secara linier dari pemasok menuju pabrik sampai ke distributor dan retailer yang kemudian disampaikan kepada konsumen. Berbeda dengan konsep linier supply chain, dalam konsep networked supply chain, produk dan informasi dapat mengalir bebas dari satu entitas ke entitas lain tanpa hambatan dan dengan kecepatan yang sangat tinggi karena adanya peran internet atau teknologi informasi didalamnya sehingga hubungan keterkaitan anatar entitas perusahaanmenjadi sangat dinamis.

 

 

TEKNOLOGI INFORMASI DALAM NETWORKED SUPPLY CHAIN

Dalam networked supply chain, perusahaan tidak lagi dipandang sebagai suatu perusahaan secara individu melainkan sekumpulan mitra bisnis yang melakukan kontrak dengan perusahaan, perusahaan logistic, dan organisasi distribusi. Infrastruktur teknologi informasi yang terintegrasi akan menurunkan biaya terkait dengan biaya pemeliharaan, manajemen, operasional dan mendukung pencapaian keunggulan kompetitif melalui perbaikan real time respon.

SCM memerlukan dukungan teknologi informasi yang menjadi tulang punggung proses pendistribusian informasi dari satu pihak ke pihak lain. Selama beberapa tahun sebelum munculnya teknologi enterprise resource planning (ERP) sebagai suatu pendekatan terintegrasi dalam integrasi system, perusahaan memfokuskan pada teknologi EDI untuk memperbaiki proses otomatisasai proses bisnis dan rantai pasok antar perusahaan.

Sistem ERP memberikan perbaikan kepuasan konsumen dan meningkatkan produktivitas. Tapu ERP juga punya keterbatasan yaitu kustomisasi dalam mendukung proses bisnis dan rantai pasokan dalam mendukung proses bisnis dan rantai pasokan secara keseluruhan. Penggunaan sistem informasi dalam aktivitas nilai memungkinkan perusahaan-perusahaan untuk mengembangkan diferensiasi untuk mencapai keunggulan kompetitif.

 

 

IMPLIKASI STRATEGIS NETWORKED SUPPLY CHAIN

Kemampuan perusahaan untuk memiliki dan mempertahankan keunggulan kompetitif merupakan salah satu kunci keberhasilan perusahaan. Keunggulan produktivitas dicapai saat perusahaan mencapau produktivitas tinggi yaitu jika melakukan produksi dengan volume produksi lebih tinggi sehingga biaya per satuan makin kecil karena biaya tetap makin kecil jika dibagi dengan volume produksi makin besar, sedangkan biaya variable tetap, sehingga biaya total makin kecil.

Keunggulan kompetitif melalui keunggulan nilai sangat menentukan kesuksesan perusahaan dalam persaingan bisnis. Beberapa aktivitas yang mendukung keunggulan nilai diantaranya adalah mencari jenis dan tingkat layanan yang dikehendaki oleh para konsumen, menciptakan dan mengembangkan pelayanan yang lebih baik berdasarkan kehendak konsumen, dan layanan penyediaan barang, waktu pengiriman yang cepat, dan pencapaian reliabilitas dan lebih responsive terhadap kebutuhan konsumen.

Dalam kondisi persaingan bisnis saat ini, kunci sukses suatu perusahaan terletak pada the triangular linkage of company yang meliputi customers, the competitions, dan the company. Berkembangnya teknologi informasi yang pesat dalam ekonomi digital saat ini memberikan banyak peluang bagi terselenggaranya aktivitas bisnis terutama yang berbasis elektronik misalnya, e-commerce, e-procurement, e-customer, dan e-market yang merupakan manifestasi ide-ide bisnis dalam perekonomian digital.

 

 

 

 

KUNCI SUKSES NETWORKED SUPPLY CHAIN: KISAH SUKSES CISCO

Salah satu kunci sukses keberhasilan perusahaan dalam persaingan adalah dengan memiliki dan mempertahankan keunggulan kompetitif yang terletak pada kemampuan perusahaan untuk membedakan dirinya dengan pesaingnya dan kemampuan melakukan produksi dengan biaya lebih rendah. Keunggulan kompetitif melalui keunggulan nilai sangat menentukan kesuksesan perusahaan dalam persaingan bisnis. Pada kenyataannya, konsumen bukan membeli barang tetapi membeli manfaat tertentu yang berada dalam suatu barang tersebut. Oleh karena itu, perusahaan harus mampu membedakan produknya dengan produk competitor. Beberapa kunci sukses implementasi networked supply chain dapat di rangkum dalam beberapa hal yaitu:

1)    Listen to customer’s need and requirement,

Dengan mendengarkan suara pelanggan secara sistematik akan membantu perusahaan dalam mengarahkan pembuatan keputusan yang berhubungan dengan atribut pelayanan dan memperbaiki sistem pelayanan perusahaan yang kurang baik.

 

2)   Continuously improve,

Perusahaan perlu melakukan perbaikan kinerja secara terus menerus baik dari segi operasional penguasaan teknologi hingga pengelolaan sumber daya manusia yang terlibat dalam kegiatan operasi perusahaan.

 

3)   Collaborate, don’t just compete,

Menghadapi kondisi persaingan bisnis yang makin kompetitif khususnya dalam era persaingan antar jejaring bisnis, perusahaan harus mampu bekerjasama dengan perusahaan lain tidak peduli apakah perusahaan tersebut merupakan pesaing atau bukan.

 

4)   Trust and commitment,

Kepercayaan dan komitmen merupakan salah satu syarat utama tercapainya kerjasama jangka panjang antar perusahaan yang terlibat dalam suatu rantai pasokan.

 

5)   Information and Communication Technologies Adoption (ICT’s adoption).

Adopsi teknologi informasi dan komunikasi sangat diperlukan karena memiliki peran besar sebagai fasilitator yang memberikan fasilitas terjalinnya kerjasama antar perusahaan yang terlibat dalam suatu rantai pasokan.

 

Salah satu contoh kesuksesan implementasi networked supply chain dalam era persaingan antar jejaring bisnis saat ini adalah kasus CISCO. CISCO merupakan sebuah perusahaan global yang menghasilkan produk berupa operating software yaitu  IOS (Internet Operating System). Dalam perkembangannya, CISCO telah banyak mengalami perubahan dari waktu ke waktu untuk memberikan pelayanan yang memuaskan bagi karyawan.

Pemesanan konsumen disimpoan dalam ERP (Enterprise Resource planning) data base dan dikirim melalui virtual private network. Pemasok CISCO dapat melihat pemesanan pada perusahaan CISCO karena jadwal produksi mereka terkoneksi dengan sistem ERP CISCO. Untuk mempertahankan kualitas pelayanan terhadap konsumen, terdapat tiga kunci sukses perusahaan yang menawarkan nilai-nilai pelanggan potensial melalui pengembangan : Architecture, Ecosystem, dan Expertise.

 

 

PENUTUP

        Perusahaan dihadapkan pada tantangan makin kompetitifnya persaingan bisnis dan kondisi lingkungan bisnis yang turbulen dan tidak dapat diprediksi. Efisiensi dan efektivitas bisnis perusahaan harus ditingkatkan sehingga perusahaan perlu meninjau kembali kegiatan operasi bisnis internalnya seperti pembelian, manajemen persediaan, dan distribusi. Manajemen rantai pasokan didefinisikan sebagai integrasi proses bisnis dari pengguna akhir melalui pemasok yang memberikan produk, jasa, informasi, dan bahkan peningkatan nilai untuk konsumen dan karyawan. Keunggulan kompetitif melalui keunggulan nilai sangat menentukan kesuksesan perusahaan dalam persaingan bisnis.

 

 

 

INTERGRAED SUPPLY CHAIN DAN DAYA SAING PERUSAHAAN : SEBUAH TELAAH LITERATUR

 

ERA KOMPETISI ANTAR JEJARING BISNIS

Karakteristik utama bisnis abada 21 adalah perubahan pola kompetisi dari kompetisi antar perusahaan secara individu menjadi kompetisi antar jejaring, artinya kompetisi yang terjadi adalah antar jejaring bisnisyang terkoordinasi dalam suatu rantai pasokan. Dalam kondisi persaingan saat ini, perusahaan harus memiliki visi yang jelas tentang bagaimana perusahaan menjadi berbeda dengan perusahaan lain melalui produk atau jasa yang mereka tawarkan. Untuk dapat bersaing dan memenangkan persaingan dalam kondisi bisnis saat ini, perusahaan harus mencari dan mengimplementasikan strategi terbaik untuk aktivitas bisnis mereka tanpa mengabaikan pesaing mereka.

Dalam hal merespon perubahan yang terjadi, perusahaan memiliki dua pilihan apakah mereka berdiam diri menghadapi perubahan yang terjadi ataukah mengambil tindakan untuk berkembang dengan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi. Dalam era kompetisi antar jejaring bisnis dimana kompetisi tidak hanya antara perusahaan secara individual, tetapi antar rantai pasokan, kemitraan berbasis koordinasi melalui suatu rantai nilai yang terintegrasimenjadi pilihan yang terbaik. Rantai nilai yang terintegrasi didefinisikan sebagai suatu pengembangan strategi yang dapat memenuhi keinginan konsumen. Untuk memfasilitasi aktivitas yang terintegrasi dan proses integrasi, perusahaan perlu memfokuskan pada investasi teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi operasi dan produktivitas dalam area fungsional rantai pasokan.

 

 

MANAJEMEN RANTAI PASOKAN DAN RANTAI PASOKAN YANG TERINTEGRASI

Manajemen rantai pasokan dibutuhkan untuk mencapai keunggulan kompetitif, karena rantai pasokan memberikan bermacam kesempatan untuk mengurangi biaya dan memperbaiki pelayanan terhadap konsumen dan kepuasan konsumen. Literatur manajemen rantai pasokan seringkali memfokuskan pada pergerakan material dan informasi untuk menyampaikan barang maupun jasa ke tangan konsumen, feedback dari konsumen juga perlu untuk dipelajari dan dipahami tetapi jarang sekali didiskusikan. Terdapat beberapa tujuan yang harus dicapai untuk mengimplementasikan suatu rantai pasokan yang terintegrasi yaitu mengurangi persediaan dan biaya, meningkatkan nilai produk, meningkatkan sumber daya, akselerasi time to market, dan mempertahankan konsumen.

Pergerakan informasi diperlukan untuk menghubungkan setiap pihak dalama rantai pasokan dan memungkinkan  aktivitas ekonomi terjadi di sepanjang rantai pasokan. Dalam rantai pasokan, semua stakeholder memeiliki peran, bukan hanya perusahaan seperti pemasok saja. Manajemen rantai pasokan membahas hubungan antar perusahaan dalam suatu rantai pasokan melalui kolaborasi vertical. Sedangkan rantai pasokan terintegrasi memiliki perspektif lebih luas yang mengakibatkan lebih luasnya kerjasama, tidak hanya kolaborasi vertical, kolaborasi horizontal, bahkan kolaborasi lateral.

 

 

INTERGRATED SUPPLY CHAIN AND MANUFACTURING COMPETITIVENESS

Integrasi rantai pasokan dikembangkan atas dasar dua keputusan. Pertama, pergerakan material yang memiliki efek pada aktivitas ekonomi, dan kedua, kerangka krja institusional yang membentuk proses produksi dan konsumsi yang mendukung proses pergerakan informasi. Untuk mendukung semua aktivitas fungsional yang terintegrasi dalam rantai pasokan, arsitektur sistem informasi harus dapat mengkoordinasi sistem informasi dalam setiap perushaan yang terlibat di dalamnya. Sangatlah mustahil untuk mencapai keefektifan dalam pengelolaan rantai pasokan tanpa peran teknologi informasi.

Suatu sistem informasi interorganisasional memiliki efek positif pada semua perusahaan yang tergabung dalam suatu rantai pasokan untuk melakukan proses penyebaran informasi. Penggunaan teknologi informasi akan memperbaiki pelayanan konsumen dalam hal penyediaan informasi tentang produk, pelayanan, dan informasi yang sangat diperlukan dalam kondisi persaingan bisnis saat ini. Keunggulan kompetitif dapat dicapai jika perusahaan memiliki produktivitas tinggi, artinya jika perusahaan memproduksi pada volume lebih tinggi sehingga biaya produksi rata-rata dapat dikurangi, sementara biaya tetap nilainya tetap, maka total biaya yang akan ditanggung oleh perusahaan akan lebih rendah.

Terdapat beberapa aktivitas yang harus dipertimbangkan untuk mengelola keunggulan kompetitif perusahaan melalui nilai-nilai konsumen seperti menciptakan dan mengembangkan pelayanan konsumen yang berkualitas berdasarkan pada kebutuhan dan keinginan konsumen untuk menjamin ketersediaan barang dan jasa, pengiriman tepat waktu, dan responsif terhadap konsumen. Kolaborasi dalam rantai pasokan memerlukan koordinasi semua aktivitas yang berbeda dan adanya saling keterkaitan dalam rantai pasokan.

Untuk mengatasi dan mengendalikan ketidakpastian yang ada, penting bagi perusahaan untuk mengidentifikasi dan memahami penyebabnya, menentukan bagaimana ketidakpastian akan mempengaruhi setiap aktivitas dalam suatu rantai pasokan. Perusahaan harus mampu mengidentifikasi, merekrut, dan mengelola kerjasama yang dikembangkan. Pengelolaan ini memerlukan dukungan komunikasi antar perusahaan yang terlibat dalam kerjasama.

 

 

 

 

 

 

ANTESEDEN FACTORS KUALITAS DAN PENYEBARAN INFORMASI DALAM RANTAI PASOKAN

(Studi Pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia)

BAB 5

LATAR BELAKANG MASALAH

Pengelolaan kemitraan bisnis melalui penciptaan rantai pasokan sangat diperlukan khususnya dalam merespon perubahan kondisi persaingan dari persaingan antar perusahaan secara individual kedalam persaingan antar rantai pasokan, dan perubahan peran perusahaan manufaktur dari memasok perusahaan domestik menjadi pasar internasional melalui perusahaan lokal (Rudberg dan Olhager,2003). Pengelolaan rantai pasokan dilakukan dengan cara mengelola koordinasi dan integrasi didalam dan diantara perusahaan untuk mencapai manajemen rantai pasokan yang efektif, kualitas pelayanan dan keuntungan perusahaan yang tinggi.

Pengelolaan suatu rantai pasokan perlu memperhatikan kondisi lingkungan bisnis baik terkait dengan ketidakpastian lingkungan, fasilitator intra-organisasional, dan hubungan inter-organisasional (Li dan Lin, 2006). Lingkungan bisnis berperan penting dalam menentukan kualitas informasi (information quality) dan aktivitas pembagian informasi (information sharing).

LANDASAN TEORI dan PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Information sharing memainkan peranan penting untuk menjamin tersedianya data secara tepat waktu, menjamin data yang dimiliki dapat dibagikan di sepanjang rantai pasokan, membantu perusahaan untuk memperbaiki efisiensi dan efektivitas rantai pasokan, dan untuk dapat merespon perubahan kebutuhan dan keinginan konsumen lebih cepat. Makin tinggi level information sharing dalam suatu rantai pasokan maka makin rendah biaya total yang diperlukan dan makin rendah pula waktu siklus pengiriman serta siklus hidup produk yang dapat dihasilkan perusahaan (Lin et al., 2002).

Untuk dapat memfasilitasi kualitas dan proses pembagian informasi di sepanjang rantai pasokan, pemahaman akan faktor-faktor yang mempengaruhi information sharing dan kualitas informasi sangat diperlukan sehingga suatu strategi yang telah dikembangkan dapat dilaksanakan dengan baik. Beberapa studi terdahulu membuktikan bahwa faktor-faktor lingkungan, fasilitator intra-organisasioanal, dan hubungan inter-organisasional merupakan faktor-faktor anteseden yang harus dipertimbangkan untuk menentukan kualitas informasi dan information sharing di sepanjang rantai pasokan.

Dalam penilitian ini mengacu pada studi yang dilakukan oleh Li dan Lin (2006) yang mengemukakan beberapa faktor anteseden yang harus diperhatikan. Faktor-faktor antesenden tersebut mencakup tiga hal utama yaitu: ketidakpastian lingkungan, fasilitator intra-organisasional, dan dan hubungan inter-organisasional. Ketidakpastian lingkungan merupakan faktor-faktor penting yang mempengaruhi information sharing dan kerjasama dalam rantai pasokan (Grover, 1993; Chandra and Khumar, 2000; Lambe and Speakman, 1997; Mentzer et.al., 2000).

Faktor kedua yaitu fasilitator intra-organisasional mencakup hal-hal yang terkait dengan dukungan manajemen puncak dan IT (information Technology) enabler yang diperlukan untuk mendukung strategi integrasi manajemen rantai pasokan ke dalam strategi organisasi secara keseluruhan (Wu et al., 2004). Faktor-faktor anteseden tersebut memiliki peran penting untuk menjamin kualitas informasi dan proses pembagian informasi di sepanjang rantai pasokan.

METODE PENELITIAN

Sampel Penilitian

Perusahaan manufaktur  yang beroperasi  di Indonesia yang terdaftar dalam direktori perusahaan manufaktur yang diterbitkan oleh Biro pusat statistic, tahun 2005 merupakan populasi penelitian ini. Klasifikasi berdasarkan International Standart  Industrial Classification (ISIC) yang telah disesuaikan dengan kondisi di Indonesia dengan nama Klasifikasi lapangan usaha industry/KLUI (BPS, 2005).

Teknik Pengumpulan Data

Data primer yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh melalui penyebaran kuesioner (mailed questionnaires) dan direct survey pada perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia. Pendekatan Total Design Method (TDM) dilakukan dengan menggunakan tindak lanjut pengiriman surat susulan pada tiga pekan setelah pengiriman surat awal, dan tujuh pecan setelah pengiriman urat awal

Variabel dan Pengukuran

Desain kuesioner tentang latar belakang atau profil perusahaan mencakup beberapa pertanyaan mendasar tentang kepemilikan, lamanya operasi, kerjasama dengan pihak luar perusahaan, jumlah tenaga kerja, tipe industry, kinerja selama tiga tahun terakhir. Variabel Bebas. Variabel bebas mancakup faktor-faktor antesenden yaitu ketidakpastian lingkungan, fasilitator intra-organisasional dan hubungan inter-organisasional (Li dan Lin, 2006).

 

 

HASIL PENELITIAN DAN DISKUSI

Profil Responden

Jumlah seluruh kuesioneryang dikirimkan kepada responden adalah 500 kuesioner dan dikirimkan kepada perusahaan manufaktur di Indonesia, yaitu 400 kuesioner dikirimkan pada 200 perusahaan melalui pos, dan 100 kuesioner diberikan langsung pada 50 perusahaan yang menjadi target responden. Dari 400 kuesioner yang telah dikirim melalui pos, 7 perusahaan tidak bersedia berpartisipasi dengan memberikan pemberitahuan melalui alamat email dan alamat korespondensi peneliti yang diberikan kepada responden.

Pengujian Validitas

Uji validitas bertujuan untuk mengukur kualitas instrument yang digunakan dan menunjukan kevalidan atau kesahihan suatu instrumen serta seberapa baik suatu konsep dapat didefinisikan  oleh suatu ukuran (Hair et al., 1998). Instrumen dikatakan valid, jika instrument sudah mampu mengukur apa yang diinginkan dan mengungkapkan data yang diteliti secara tepat. Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan confirmatory factor analysis dengan varimax rotation. Untuk mengukur tingkat keterkaitan (intercorrelation) diantara variable dan kelayakan terhadap analisis faktor adalah Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequcy (Kaiser’s MSA).

Pengujian Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui apakah pengukuran telah terbebas dari kesalahan (error) sehingga memberikan hasil pengukuran yang konsisten pada kondisi yang berbeda dan pada masing-masing butir dalam instrument. Reliabilitas dapat diukur dengan menggunakan Croanch’s Alpha yang mencerminkan konsistensi internal suatu alat ukur(Hair et al., 1998).Rule of thumb yng dipakai untuk menentukan reliabilitas suatu instrument penelitian adalah bahwa nilai Croanch’s Alpha harus lebih besar dari 0,70.

 

KETERBATASAN DAN PENGEMBANGAN PENELITIAN

Pengelolaan manajemen rantai pasokan memerlukan peran sistem informasi untuk menciptakan kesuksesan link antara konsumen dan pemasok untuk merespon perubahan pasar sehingga permintaan dan penawaran dalam pasar dapat seimbang. Pengelolaan kemitraan berbasis koordinasi dalam suatu rantai pasokan berbagi hambatan baik yang bersumber dari internal perusahaan maupun eksternal.

Untuk mengatasi berbagai tantangan dan hambatan bagi perushaan tersebut diperlukan kebijakan terkait dengan change management, kerjasama dengan pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pasokan. Pilihan integrasi rantai pasokan perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu karakteristik produk dan jasa yang diproduksi yang mencangkup volume, kompleksitas, transaksi, dan proses bisniis.

PENGARUH INFORMATION SHARING DAN QUALITY INFORMATION TERHADAP KINERJA RANTAI PASOKAN

(Studi Pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia)

LATAR BELAKANG MASALAH

Persaingan bisnis saat ini ditandai dengan perubahan kondisi persaingan antar perusahaan secara individual kedalam persaingan antar rantai pasokan dan perubahan peran perusahaan manufaktur dari memasok perusahaan domestic menjadi pasar internasioanalmelalui perusahaan lokal (Rudberg dan Olhager, 2003). Williamson et al. (2004) mendefinisikan manajemen rantai pasokan sebagai pengelola organisasi-organisasi yang terkait dalam suatu hubungan dengan mitra bisnisnya yaitu kterkaitan upstream (pemasok) dan downstream (konsumen) dalam proses yang berbeda-beda untuk menghasilkan nilai dalam bentuk produk dan jasa kepada konsumen.

KERANGKA TEORITIS dan PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Dalam implementasi manajemen rantai pasokan, information sharing memainkan peranan yang penting. Tersedianya data secara tepat waktu dan dapat dibagikan di sepanjang rantai pasokan dapat membantu perusahaan untuk memperbaiki efisiensi dan efektivitas rantai pasokan dan untuk dapat merespon perubahan kebutuhan dan keinginan konsumen lebih cepat. Lin et al. (2002) mngemukakan bahwa makin tinggi level information sharing dalam suatu rantai pasokan maka makin rendah biaya total yang diperlukan dan makin rendah pula waktu siklus pengiriman serta siklus hidup produk yang dapat dihasilkan perusahaan.

 

 

 

 

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian meliputi seluruh perusahaan manufaktur yang beroperasi di Indonesia yang terdaftar dalam Direktori Perusahaan Manufaktur yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik, tahun 2005. Sampel ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dan sampel yang dipilih adalah perusahaan manufaktur dengan criteria memiliki skala besar.

Teknik Pengumpulan Data

        Studi pada penelitian ini menggunakan data primer. Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner (mailed questionnaires) dan direct survey pada perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia. Target responden menggunakan multisource yaitu CEO (manajemen puncak), manajer operasional, manajer pemasaran, dan manajer system informasi.

Variabel Dan Pengukuran

Desain kuesioner mencakup pertanyaan mendasar tentang perusahaan yaitu meliputi kepemilikan, lamanya operasi, kerjasama dengan pihak luar perusahaan, jumlah tenaga kerja, tipe industri, kinerja selama tiga tahun terakhir.

Variabel Bebas

        Variabel terikat dalam penelitian ini adalah variabel terikat dalam penelitian ini meliputi information sharing dan information quality (pada model regresi tahap 1) yang masing-masing terdiri atas tiga dan lima pertanyaan yang diukur menggunakan Skala Likert 5 point dari sangat tidak setuju (1) hingga sangat setuju (5).

Variabel Terikat

Variabel terikat yang lain adalah kinerja operasional rantai pasokan diukur dengan menggunakan metode SCOR yang meliputi lima dimensi penting yaitu reliabitas, responsiveness, fleksibilitas, biaya, dan asset. Skala Likert 5 point digunakan untuk melihat kinerja perusahaan dibandingkan kinerja rata-rata industri (1= jauh lebih rendah, 5= jau lebih tinggi.

 

 

 

HASIL PENELITIAN DAN DISKUSI

Profil Responden

        Total kuesioner sebanyak 500 kuesioner dikirimkan kepada perusahaan manufaktur di Indonesia, yaitu 400 kuesioner dikirimkan pada 200 perusahaan melalui pos, dan 100 kuesioner diberikan langsung pada 50 perusahaan yang menjadi target responden.

Teknik pengumpulan data juga dilakukan dengan cara mendatangi pimpinan perusahaan dan manajer operasional secara langsung dan memohon kesediaan mereka untuk menjadi responden dalam penelitian ini.

Pengujian Validitas

Pengujian Validitas dilakukan dengan menggunakan confirmatory factor analysis dengan varimax rotation. Untuk mengukur tingkat keterkaitan (intercorrelation) diantara variabel dan kelayakan terhadap analisis faktor adalah Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy (Kaiser’s MSA).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: